Selamat Datang | Sugeng Rawuh | Wilujeng Sumping | Selamet Dheteng | Rahajeng Rauh | Salamaik Datang | Horas | Mejuah-Juah | Nakavamo | Slamate Iyoma | Slamate Illai | Pulih Rawuh | Maimo Lubat
Showing posts with label Dunia Kampus. Show all posts
Showing posts with label Dunia Kampus. Show all posts

Sunday, February 05, 2012

Publikasi Karya Ilmiah

Berdasarkan, Surat Dirjen Dikti tertanggal 27 Januari 2012, bahwa terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012, diberlakukan ketentuan sebagai berikut:

  1. Untuk lulusan program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah;
  2. Untuk lulusan program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional diutamakan yang terakreditasi Dikti;
  3. Untuk lulusan program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional.
Kebijakan yang sangat tepat dilakukan oleh Dikti mengingat pada saat sekarang ini, jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah dibandingkan dengan Malaysia. Hal ini merupakan tantangan untuk meningkatkannya, dan adanya kebijakan ini adalah salah satunya.

Selamat berusaha kawan, untuk calon lulusan setelah Agustus 2012, dipersiapkan dari sekarang. ^^

Tuesday, January 31, 2012

Tawaran Program Student Exchange Universitas Brawijaya 2011/2012

Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bidang akademik serta menambah pengalaman mahasiswa dalam menempuh perkuliahan di tempat yang berbeda, maka Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya menyelenggarakan Program Student Exchange Periode Semester Genap 2011/2012 untuk mahasiswa semester 2, 4 dan 6.

Pendaftaran
  1. Program ini dibuka bagi mahasiswa semester 2 sampai dengan semester 6;
  2. Pendaftaran dibuka mulai hari Selasa, 31 Januari 2012 s/d hari Jum'at 03 Februari 2012;
  3. Pendaftaran dilengkapi dengan Kartu Hasil Studi (KHS) Semester 1 s/d semester terakhir.
Seleksi
  1. Proses seleksi dilakukan dua tahap, seleksi tahap pertama adalah seleksi administratif, dan tahap kedua adalah seleksi wawancara;
  2. Seleksi tahap pertama dan tahap kedua dilaksanakan pada tanggal 06 Februari s/d 10 Februari 2012;
  3. Hasil seleksi akan diumumkan secara tertulis.
Bagi mahasiswa yang berminat untuk mengikuti program ini, silahkan menghubungi Pembantu Dekan I untuk informasi lebih lanjut.

Bagi mahasiswa yang berminat silahkan mengisi formulir pendaftaran yang dapat didownload di sini

Tuesday, August 16, 2011

Gaudeamus Igitur

Gaudeamus igitur, Iuvenes dum sumus.
Post iucundam iuventutem, Post molestam senectutem
Nos habebit humus, Nos habebit humus…
Selesai sudah rangkaian ujian skripsi Universitas Trunojoyo Madura periode Semester Genap 2010/ 2011. Selamat buat kawan-kawan sekalian atas keberhasilan menyelesaikan studi di Universitas Trunojoyo Madura. Jagalah dirimu, jagalah almamatermu, sukses selalu…

Gaudeamus igitur, Iuvenes dum sumus.
Post iucundam iuventutem, Post molestam senectutem
Nos habebit humus, Nos habebit humus…

Vivat academia!, Vivant professores!
Vivat membrum quodlibet, Vivant membra quaelibet;
Semper sint in flore, Semper sint in flore…


Wednesday, July 27, 2011

Selamat Jalan Prof, maafkan kami semua

“Mana yang lain”, itulah kalimat pertama yang keluar dari bibirnya dengan logat Sunda yang kental mengawali sebuah perkuliahan pada suatu siang di pertengahan bulan Oktober hampir dua tahun yang lalu. Sang pemilik suara adalah sang penguasa kelas mata kuliah Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia, Guru Besar (emiritius), Prof. Dr. H. Pontang Moerad, BM. SH.
Kesan jutek dan tidak bersahabat, itulah yang menghinggapi kami ketika pertemuan pertama kelas itu. Namun, kesan pertama menentukan segalanya tidak selamanya benar, setidaknya dalam hal ini. Karena sang Guru Besar  tidak selamanya jutek dan tidak selamanya pula tidak bersahabat, karena terkadang beliau bisa menjadi ayah yang sangat baik buat anak-anaknya, walaupun terkadang bisa menjadi ayah yang sangat tegas pula pada anak-anaknya.
Kami tidak pernah tahu, apa kepanjangan dari “BM” pada nama belakangnya sebelum gelar Sarjana Hukum itu, sampai kemarin saya membaca berita di situs resmi Unpad, bahwa sang guru besar telah berpulang. Kamipun tidak pernah tahu, darimanakah beliau berasal, karena selalu memberikan tebakan bagi kami, “bapak orang mana?”, seisi kelas menebak, dan beliau hanya menjawab, “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, sampai kemarin saya membaca, bahwa BM adalah kependekan dari Bastaman Mangkuwinata yang menegaskan, bahwa beliau berdarah Sunda.
Banyak hal yang kita ingat dari beliau, gurauan-gurauan tidak terduga disaat kelas sedang dalam titik tegang, disaat suhu kelas meningkat karena ketidaksanggupan kami menjawab setiap pertanyaan yang diajukan sampai akhirnya muncul pertanyaan yang menjadi jargon angkatan kami, “ini Fakultas Hukum bukan? Masa pertanyaan kaya begitu saja tidak bisa jawab?”. Duh guru, maafkan kami, tidak mampu kami mengimbangimu.
Pertemuan terakhir saya dengan sang Guru Besar pada saat saya meminta sebuah kata pengantar untuk buku yang sedang saya tulis. Beliau membaca, beliau setuju, beliau memberikan tanda tangan wujud persetujuannya dan mendorong untuk segera diterbitkan. Kalimat terakhir yang diucapkan beliau ke saya adalah, “cepetan sekolah lagi, jangan lama-lama, otak tidak akan semakin tumpul jika semakin sering digunakan”.
Maaf Prof, belum sempat saya mengucapkan terima kasih untuk semuanya, belum sempat saya memohon maaf untuk kesalahan yang saya buat sengaja ataupun khilaf selama menjadi murid Prof, dan belum sempat buku itu saya terbitkan dan memberikannya satu untuk Prof sebagai sedikit kenang-kenangan, bahwa nama Prof akan selamanya melekat dalam buku itu kelak.
Maafkan saya, maafkan kami murid-muridmu, selamat Jalan Prof, semoga ilmu yang telah engkau berikan kepada kami menjadi royalty pahala selamanya. Ameen.

Tuesday, July 19, 2011

Road To National Moot Court Competition Piala Prof. Sudarto III

Untuk kali kesekian saya diberikan kesempatan untuk bersama kawan-kawan yang akan mengikuti kompetisi nasional bertajuk National Moot Court Competition Piala Prof. Sudarto III yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang, tanggal 23 – 26 September 2011. Pada kesempatan yang lalu saya pernah menulis tentang Tim Moot Court Competition Piala AG. Pringgodigdo di Universitas Airlangga Surabaya, maka pada kesempatan kali ini saya akan memperkenalkan sedikit tentang Tim Moot Court Competition Piala Prof Sudarto III.
Perbedaan mendasar antara tim ini dengan tim sebelumnya yang pernah saya tuliskan adalah, tim kali ini sudah memiliki organisasi resmi bernama KOMMPAS (Komunitas Mahasiswa Peradilan Semu). Salah satu UKMF di Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura. Komunitas ini terbentuk tanggal 21 Maret 2010. Berisikan mahasiwa-mahasiswi Fakultas Hukum dengan tidak memandang pilihan konsentrasi maupun tingkatan semester. Mulai dari semester II sampai dengan semester berapapun diperkenankan menjadi anggota komunitas ini.
Pengurus memiliki kewenangan untuk membentuk dan menentukan siapa anggota tim yang akan diikutsertakan dalam kompetisi peradilan semu nasional Piala Prof Sudarto III ini. Sebelumnya, komunitas ini pernah mengikuti kompetisi serupa bertajuk National Moot Court Competition Piala Kejaksaan Agung RI II yang diselenggarakan di Universitas Pancasila Jakarta bulan Desember 2010 silam.
Sebelum komunitas ini terbentuk, Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo pernah mengikuti beberapa kompetisi persidangan semu nasional antara lain Kompetisi Persidangan Semu Peradilan Pidana Internasional yang diselenggarakan oleh KOMNAS HAM bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung pada tahun 2007, Kompetisi Peradilan Semu Niaga Piala AG. Pringgodigdo di Fakultas Hukum Universitas Airlangga tahun 2008 dan Kompetisi Peradilan Semu Pidana di Universitas Islam Indonesia tahun 2009.
Intinya, tiap tahun kita mengirimkan delegasi ke kompetisi berskala nasional, dengan harapan lebih memperkenalkan mahasiswa lebih dekat dengan dunianya, yaitu pengadilan. Mulai bulan Mei 2011 kemarin, tim sudah terbentuk dan latihan demi latihan sudah dimulai, sampai saat ini. Semoga proses yang bagus ini akan membawa hasil yang bagus nantinya, walaupun tujuan bukan segalanya. Selamat berjuang kawan-kawan, lakukan yang terbaik.. 

Thursday, July 07, 2011

R E S P E C T



Kita lahir tumbuh dan hidup di tengah-tengah manusia yang lainnya. Apa jadinya jika kita hidup tanpa ada saling menghargai satu dengan yang lain? Ketika kita menyebut diri kita “aku” dan mereka menyebut diri mereka juga “aku”, apa yang terjadi? tak perlu kita bayangkan, karena sampai saat ini kita masih bisa menghargai satu dengan yang lain. Dari mana rasa saling menghargai itu tumbuh dan berkembang? Semua berawal dari lingkungan terdekat dengan manusia itu sendiri, yaitu lingkungan paling kecil, keluarga.

Keluarga mengajarkan kita menghargai satu dengan yang lain. Nilai itu dibawa ke lingkungan yang lebih besar, sekolah. Sekolah mengajarkan menghargai dalam berbagai bentuk untuk membentuk individu agar diterima di masyarakat dengan nilainya masing-masing dan saling menghargai.
Sekolah mengajarkan untuk menghargai hasil karya diri sendiri dan orang lain. Dengan menghargai hasil karya orang lain, kita belajar untuk menghargai diri sendiri. Di sekolah pula kita diajarkan nilai-nilai yang jauh lebih kompleks dari nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga. Tapi, nilai yang diajarkan di keluarga adalah purwarupa dari nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dan keluarga.
Sebetulnya kemana arah pembicaraan ini?
Saya hidup bersama dengan yang lain sudah (atau lebih tepat baru) dua puluh tahun lebih. Selama itu pula saya belajar untuk menghargai dan dihargai orang lain. Tapi selama itu pula saya melihat bagaimana ketika satu dengan yang lainnya tidak saling menghargai. Dalam dunia saya, tidak menghargai karya orang lain, PLAGIAT.
Saya merasakan susahnya menemukan ide, sehingga saya tidak yakin apakah saya pernah menemukan ide. Namun, mengembangkan ide saya pikir lebih mudah daripada menemukan ide, sehingga saya pikir lagi, saya selama ini hanya mengembangkan ide. Hormat saya buat para penemu ide, dan hormat saya juga bagi mereka yang menghormati para penemu ide.
PLAGIAT sama dengan mencuri, dan objek pencurian itu memiliki nilai yang tidak dapat ditaksir dalam nilai berapapun, ide. Bagi para penemu ide dan pengembang ide, mencuri idenya sama halnya mencuri otaknya. Plagiat atau COPAS (COpy PASte) dalam bahasa saya dan kawan-kawan, adalah hal yang tak terampuni dalam dunia akademik, setidaknya tidak saya ampuni. Kecuali sang peng COPAS mengakui perbuatannya dan bersedia bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.
Untuk tugas mata kuliah, konsekuensinya adalah gagal dalam mata kuliah itu, sedangkan untuk skripsi, tesis dan desertasi konsekuensinya adalah pencabutan gelar jika aksi COPAS itu diketahui setelah dinyatakan lulus, atau penulisan ulang skripsi, tesis dan desertasi tersebut jika diketahui pada saat pengerjaan.
Banyak kita jumpai aksi COPAS ini dimana-mana, di dunia musik sampai akademik, kata Kang Pidi Baiq, “Hidup Kami, Matilah Plagiator”. Matilah kalian. Ayo kawan, hormati diri sendiri dengan menghormati orang lain.

Friday, August 15, 2008

Kompetisi Peradilan Semu Niaga


Orang bilang kompetisi sidang semu itu drama, belajar akting dan lain sebagainya. Tapi bagi siapapun yang pernah terlibat secara langsung di dalamnya, itu tidak hanya sekedar drama.
Hal ini yang sedang dialami teman-teman mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo yang sekarang sedang sangat sibuk dan dalam tensi sangat tinggi dalam rangka keikutsertaan mereka untuk kali pertama dalam kompetisi sidang semu tingkat nasional bertajuk Kompetisi Persidangan Semu Niaga Piala AG. Pringgodigdo yang diselenggarakan Universitas Airlangga Surabaya, 01 - 04 Agustus 2008.

Banyak yang tidak sadar bahwa kompetisi ini sangat diperlukan bagi mahasiswa Fakultas Hukum, khususnya bagi mereka yang sangat ingin terjun ke dunia praktisi. Sangat ironis jika justru yang menganggap tidak atau kurang penting adalah kalangan Pejabat Fakultas Hukum, mengingat sidang semu adalah lahan aktualisasi mahasiswa Fakultas HUkum untuk mengapresiasikan diri menghadapi dunia mereka, yaitu dunia praktisi.

Dulu, kompetisi sidang semu pada umumnya adalah kompetisi peradilan semu pidana, namun dalam perkembangannya muncul kompetisi sidang semu militer, HAM dan Unair memulai dengan kompetisi sidang semu Niaga. Kompetisi sidang semu memiliki banyak aspek yang didapatkan, aktualisasi diri itu yang utama, namun efek samping yang dihasilkan tidak kalah pentingnya. Membentuk kelompok lintas universitas yang sangat berguna untuk menambah jaringan kerjasama bagi mahasiswa baik ketika sedang menjadi mahasiswa maupun setelah lulus.

KOmpetisi tahunan bertajuk piala Mutiara Djokosoetono milik Universitas Indonesia adalah salah satunya, kompetisi sidang semu pidana yang menarik seluruh mahasiswa Fakultas HUkum Se- Indonesia layaknya kompetisi Piala Champion Eropa bagi pecinta sidang semu. Piala ini sangat bergengsi mengingat nama piala, penyelenggara dan peserta memiliki reputasi yang bergengsi di Indonesia. Kompetisi Sidang Semu HAMpun tak kalah menariknya, dengan sistem lomba yang berbeda dengan lainnya menjadikan kompetisi sidang semu HAM yang diselenggarakan oleh KomnasHAM dan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran menjadi salah satu even yang ditunggu oleh mahasiswa Fakultas Hukum.

Bagaimana dengan Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo? walaupun tidak berstatus sebagai tuan rumah, semangat untuk menjadi peserta dan dukungan dari pihak Fakultas adalah modal utama. Practice make perfect, semakin banyak jam terbang kita mengikuti kompetisi serupa semakin tebal mental tertata untuk menghadapi dunia kita.

Batu pertama telah kita letakkan, berikutnya apa yang akan kita lakukan?

Wednesday, April 23, 2008

Pendidikan Indonesia

Apapun bentuk dan jenisnya, pendidikan itu penting bagi kehidupan kita. Paradigma berpikir masyarakat Indonesia berbeda dalam memandang pendidikan. Pendidikan adalah gelar akademik bagi sebagian masyarakat, dan di lain kelompok, pendidikan diartikan sebagai kegiatan duduk di ruang kelas mendengarkan guru dan lulus. Bagi saya, pendidikan adalah suatu proses untuk mendapatkan pengetahuan, mulai dari kita ada sampai kita tiada. Proses itu adalah hak kita yang harus dilindungi oleh negara sebagai organisasi makro dalam berkehidupan kita. Tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang pendidikan, karena secara kebetulan saya adalah salah satu unsur dalam proses itu, baik sebagai orang yang didik maupun sebagai pendidik. Selain itu secara kebetulan juga, saudara kita sedang berjuang untuk melewati salah satu proses dalam pendidikan mereka, Ujian Nasional. Sebagai seseorang yang bertugas mentransfer pengetahuan yang dipercayakan Tuhan kepada saya, saya berprinsip Docendo Discimus, yang artinya belajar dengan mengajar, dan proses adalah sasaran dalam pembelajaran saya. Mungkin persepsi pendidikan saya dengan 231.627.000 jiwa yang ada di Indonesia atau dengan 6,6 milyar jumlah penduduk dunia berbeda, akan tetapi satu yang saya yakini sama yaitu keinginan untuk melindungi proses dalam memperoleh pendidikan itu. Pendidikan di Indonesia adalah salah satu agenda penting yang menjadi pekerjaan rumah tidak hanya bagi pemerintah Indoensia tapi juga dunia. Masalah pendanaan menjadi sektor utama pembahasan. Di dalam pasal 31 UUD 1945, anggaran pendidikan dalam APBN adalah sekurang-kurangnya 20%. Suatu perubahan besar kiranya kalau hal tersebut dapat terpenuhi. Pada tahun 2007, belanja negara diprediksi mencapai Rp 454 triliun di mana Rp 295,6 triliun untuk belanja pemerintah pusat, sedangkan dana pendidikan mencapai Rp 43,4 triliun atau kurang dari 10 persen. Sedangkan perhitungan pada tahun 2008 dari Rp 484,6 triliun belanja negara belanja pemerintah pusat mencapai Rp 310,4 triliun, sedangkan Rp 54 triliun untuk dana pendidikan atau naik 24,4 persen akan tetapi masih berada di angka di bawah 20 persen. Dimana komitmen pemerintah untuk mengawal proses pendidikan bagi warga negara. Belum selesai permasalahan anggaran yang menjadi ganjalan dan mengakibatkan pendidikan mahal, muncul sebuah fenomena adanya Badan Hukum Pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia. Perguruan Tinggi yang memiliki reputasi di Indonesia berstatus Badan Hukum Pendidikan, dimana konsekuensinya adalah biaya mahal bagi konsumennya, saya katakan konsumen karena orientasi bukan lagi mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi kemajuan perguruan tinggi tersebut. Proses pendidikan yang selayaknya dikawal negara dengan dana yang cukup, sehingga pendidikan terjangkau menjadi mentah dengan adanya Badan Hukum ini. Benar kiranya, tidak semua perguruan tinggi berbentuk Badan Hukum, akan tetapi pada masanya nanti semua akan seperti itu... Kita tunggu sajalah, daripada panjang lebar ga jelas, saya juga latah iseng nulis yang mungkin tanpa dasar, tapi mungkin juga berdasar tergantung apakah dasar tersebut dianggap sebagai dasar atau bukan. Salam

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes