Selamat Datang | Sugeng Rawuh | Wilujeng Sumping | Selamet Dheteng | Rahajeng Rauh | Salamaik Datang | Horas | Mejuah-Juah | Nakavamo | Slamate Iyoma | Slamate Illai | Pulih Rawuh | Maimo Lubat

Tuesday, January 31, 2012

Tawaran Program Student Exchange Universitas Brawijaya 2011/2012

Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bidang akademik serta menambah pengalaman mahasiswa dalam menempuh perkuliahan di tempat yang berbeda, maka Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya menyelenggarakan Program Student Exchange Periode Semester Genap 2011/2012 untuk mahasiswa semester 2, 4 dan 6.

Pendaftaran
  1. Program ini dibuka bagi mahasiswa semester 2 sampai dengan semester 6;
  2. Pendaftaran dibuka mulai hari Selasa, 31 Januari 2012 s/d hari Jum'at 03 Februari 2012;
  3. Pendaftaran dilengkapi dengan Kartu Hasil Studi (KHS) Semester 1 s/d semester terakhir.
Seleksi
  1. Proses seleksi dilakukan dua tahap, seleksi tahap pertama adalah seleksi administratif, dan tahap kedua adalah seleksi wawancara;
  2. Seleksi tahap pertama dan tahap kedua dilaksanakan pada tanggal 06 Februari s/d 10 Februari 2012;
  3. Hasil seleksi akan diumumkan secara tertulis.
Bagi mahasiswa yang berminat untuk mengikuti program ini, silahkan menghubungi Pembantu Dekan I untuk informasi lebih lanjut.

Bagi mahasiswa yang berminat silahkan mengisi formulir pendaftaran yang dapat didownload di sini

Wednesday, January 04, 2012

Atraksi Sandal vs Peradilan Restoratif

Saksikanlah, bukan sulap, bukan sihir, tetapi atraksi sandal melawan peradilan restorative. Saksikanlah, pertama kali di dunia, seorang pencuri sandal jepit, anak-anak pula, didakwa melakukan pencurian dengan ancaman lima tahun penjara. Saksikanlah beserta keanehan-keanehan lainnya, hanya disini, di sistem peradilan pidana Indonesia.
Apa menariknya atraksi sandal melawan peradilan restorative? Atau pertanyaan lainnya, apa hubungannya antara atraksi sandal dengan peradilan restorative? Atau pertanyaan lainnya lagi, apa sih atraksi sandal itu? Dan apa sih peradilan restorative itu?
Baiklah, akan coba dijawab mulai dari dua pertanyaan terakhir. Apa itu atraksi sandal? Mungkin udah bosan kawan-kawan lihat di televise ataupun di media-media lainnya tentang adanya skandal sandal yang konon mendunia ini. Kejadiannya bermula ketika seorang anak berinisial AAL dan beberapa kawannya disangka mencuri sandal milik Briptu AR. AAL dan beberapa kawannya diperiksa oleh Briptu AR dan Briptu SS. Pemeriksaan dilakukan dilengkapi dengan dugaan adanya penganiayaan kepada AAL dan kawan-kawannya. Dari viva news menyebutkan ada beberapa versi terkait proses hukum dalam perkara sandal yang ga seberapa itu.
Versi Orang Tua AAL
Orang tua AAL mengharapkan majelis hakim menghentikan perkara ini, karena AAL masih anak-anak dan apabila tetap berjalan prosesnya, pihak orang tua AAL hanya bisa pasrah. Selain itu, orang tua AAL melihat adanya kejanggalan dalam proses tersebut, diantaranya adalah barang bukti berupa sandal yang menjadi objek pencurian bukanlah sandal yang dicuri oleh AAL. Ada dugaan penukaran  barang bukti.
Versi Kepolisian
Ini nih versi kepolisian yang sungguh-sungguh di luar dugaan. Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan kepolisian ini, tapi satu yang patut kita catat, bahwa pelaksanaan proses dalam sistem peradilan pidana menurut kepolisian bisa by request, bahkan oleh pelaku sendiri. Versi kepolisian menyatakan, bahwa pihak orang tua AAL yang ngotot agar perkara dilanjutkan melalui proses hukum.
Versi Kejaksaan
Dari Kejaksaan menyatakan, bahwa perkara ini sudah pernah dicoba untuk dilakukan proses mediasi tetapi gagal. Pihak kepolisian menghendaki untuk melanjutkan ke proses pengadilan. Dalam bahasa kerennya dilakukan process verbal…^^ berdasarkan data di kejaksaan negeri, diperoleh kesimpulan, yang bersikeras membawa perkara ini ke jalur hukum adalah pihak korban (Briptu AR) bukan dari pihak pelaku (orang tua AAL)
Begitulah kira-kira beberapa versi yang saya rangkum dari vivanews dan beberapa artikel terkait lainnya yang dapat kengkawan jumpai dari satu link tersebut. Manakah yang benar? Versi orang tua, versi kepolisian ataukah versi kejaksaan? Disini kita tidak menghakimi skandal sandal, atau atraksi sandal yang mendunia itu (konon udah dimuat di Washington Post, dan beberapa media asing lainnya, “sandal sebagai symbol ketidakadilan di Indonesia”. Nah lalu, apa yang akan dibahas di sini selain versi mana yang benar. Pendapatku, yang tentu saja banyak yang bilang keliru dan tidak patut ditiru, menyatakan semua pendapat benar. Benar menurut mereka masing-masing. Yang akan aku bahas adalah tentang bagaimana seharusnya skandal sandal ini dalam sudut pandang peradilan restorative. Oleh karena itu judulnya adalah atraksi sandal dan peradilan restorative.
Untuk itu akan menjawab pertanyaan kedua, apa itu peradilan restorative dan apa hubungannya antara atraksi sandal dengan peradilan restorative.
Sudah pernah kutulis sebelumnya tentang peradilan restorative ini, yang dapat kengkawan liat di sini. Tapi biar ga ribet akan coba kuringkas, konsep peradilan restorative tidak memfokuskan diri pada kesalahan yang telah lalu, tetapi bagaimana memecahkan masalah tanggungjawab dan kewajiban pada masa depan pelaku. Jadi hukuman bukanlah suatu cara untuk menyelesaikan permasalahan, melainkan dengan menggunakan rekonsiliasi atau perdamaian untuk menciptakan kondisi seperti sedia kala.
Hubungannya dengan atraksi sandal adalah, berapa si harga sandal itu? Begitu mahalnya kah? Apakah tidak dapat diganti dengan membayar ganti sandal lainnya saja, terlebih jika pelakunya adalah anak-anak, sangat tidak bijak apabila perkara yang tidak seberapa tersebut harus melalui proses panjang dan berliku sistem peradilan pidana, selain tidak banyak manfaatnya, lebih banyak mudharatnya…^^
Versi Kepolisian menyatakan, bahwa perkara ini terpaksa dilanjutkan karena pihak orang tua AAL (tersangka) bersikeras untuk membawa perkara ke jalur hukum. Seandainya benar seperti itu, bukankah kepolisian memiliki wewenang untuk menghentikan penyidikan dengan alasan tidak cukup bukti, bukan merupakan tindak pidana dan dihentikan demi alasan hukum. Atau dengan berdaarkan Surat Kapolri Nomor: B/ 3022/ XII/ 2009/ Sdeops tanggal 14 Desember 2009 tentang Penanganan Kasus melalui Alternatif Dispute Resolution(ADR) yang menjadi pedoman bagi penyidik untuk memberlakukan alternative penyelesaian perkara sebelum dilakukan proses pidana. Menurut Surat Kapolri tersebut, penegakan hukum terkait dengan penanganan perkara pidana yang mempunyai kerugian materi/ ekonomi sangat kecil, penyelesaiannya dapat diarahkan melalui konsep ADR. Objek kan Cuma sandal yang memiliki kerugian ekonomi sangat kecil. Tentunya hal ini tidak sejalan dengan kehendak Surat Kapolri pun dengan jiwa peradilan restorative tersebut.
Anggaplah kemudian versi kepolisian ini benar, lalu dilanjutkan ke proses penuntutan di Kejaksaan, bukankah penuntut umum memiliki alasan untuk menghentikan penuntutan, bahkan mengesampingkan perkara sekalipun. Itu adalah wewenang penuntut umum dan jaksa agung atas nama penuntut umum. Tapi itu tidak dilakukan, bahkan sudah ada putusan pengadilan yang menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana pencurian (vivanews.com). Yang menjadikan atraksi ini makin menarik adalah, ketika putusan pengadilan menyatakan terdakwa terbukti melakukan perbuatan mengambil sandal akan tetapi bukan sandal yang dimaksud dalam barang bukti. Atas perbuatan tersebut terdakwa dikembalikan kepada orang tua. Mari kita cermati putusan tersebut, terbukti melakukan tindak pidana tapi bukan pada barang bukti yang dimaksud, jadi, bukankah maksud dari putusan tersebut tidak terbukti secara sah dan meyakinkan? bagaimana bisa meyakinkan, jika alat bukti yang diajukan tidak sah, atau tidak ada barang bukti yang mendukung alat bukti sehingga dapat dinyatakan terdakwa bersalah. Jika perbuatan tidak terbukti secara sah (dalam sudut pandang alat bukti) dan meyakinkan (dalam sudut pandang keyakinan hakim atas perbuatan dan alat bukti yang diajukan), maka hakim tidak boleh menjatuhkan putusan pemidanaan. Anggaplah putusan pengadilan dalam perkara ini bukan putusan pemidanaan, karena terdakwa dikembalikan ke orang tua, namun, terdakwa dinyatakan bersalah, dan jika terdakwa berusia dewasa, maka akan dijatuhi putusan pidana. Ruwet ya, namanya atraksi memang ruwet, dan tidak semua orang bisa meniru, termasuk dalam perkara ini, tidak semua orang bisa meniru memang...^^
Pengadilan menjatuhkan putusan bersalah terhadap terdakwa, walaupun alat bukti tidak mendukung putusan tersebut. Penting ga sih putusan itu? Hanya untuk sebuah sandal? Bukankah hakim memutus perkara Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa? Lantas dimanakah letak keadilan dan berketuhanannya jika seperti itu keadaaannya?
Jadi bukan saatnya kita lempar pertanyaan siapa yang bersalah siapa yang benar, tapi melihat secara utuh permasalahan tersebut, masih pantaskah ini disidangkan dalam sebuah proses panjang, bahkan menjadi pembicaraan orang se Indonesia Raya dan Sejagad Raya…^^
Sungguh sebuah atraksi, konyol tapi menyakitkan, membuat kita berpikiran psikopat bagi siapapun yang mentertawakannya. Ini baru atraksi sandal, lain kali jika ada waktu akan saya ceritakan tentang atraksi pisang dan lain sebagainya.
Joyo-joyo wijayanti, manggiho nugroho dateng kito sami…^^

Thursday, November 17, 2011

Salamku, Sahabat (cerita dari satu kosan ke kosan lainnya ^^)

Kawan Kosan Pertama

Mencontek judul lagu dari KLa Project beberapa tahun lalu. Mencontek liriknya juga sebagai kalimat Tanya, “apa kabar di hidupmu, sekian waktu adakah kau baik selalu, sahabat?”. Kapan hari liat-liat buku di toko buku, ngeliat buku berjudul anak kos dodol, konon sudah ada tiga jilid, aku baru baca jilid satu. Bagus juga, tapi aku yakin, kalau kawan-kawan mau menuliskan kisah yang dialami selama ada di kosan waktu kuliah atau sekolah, pasti juga akan menyenangkan. Seperti kali ini, aku akan coba menulis dan mengingat-ingat kembali kawan kos yang diantaranya adalah sahabat-sahabatku.
Setidaknya, aku mengalami beberapa kali pergantian kawan kos, baik ditempat yang sama atau ditempat yang sama sekali berbeda. Kalau diinget-inget dan diitung-itung, aku pindah tempat kos sebanyak 9 kali (lumayan juga ya…^^) dalam waktu 11 tahun (what??? Sebelas tahun masih ngekos juga??? :p). Dari delapan kali hijrah tempat kos itu, 3 diantaranya di kota Malang, dua di Madura, tiga di Bandung dan satu di Surabaya. Dari delapan kali itu, mana kira-kira yang paling menarik? Hmmm agak sulit dijawab, semuanya punya cerita masing-masing yang akan aku ringkas dalam tulisan ini, tapi dari semuanya ada satu yang membawa kesan yang paling berarti. Tak lain tak bukan adalah kosan pertama, Malang, medio Agustus 2000.
Kosan pertama sangat sederhana (baca: kecil…^^). Berukuran 2 x 2 meter, cukuplah untuk anak semester I duduk di bangku kuliah dimana buku belum seberapa dan pakaian ala kadarnya. Kenapa dari delapan kosan itu, ini yang terpilih? Jawabannya sangat sederhana. Karena aku menemukan “keluarga” baru yang sangat dibutuhkan ketika kita jauh dari keluarga inti kita. Tidak terbayang, mendadak aku terpisah dari keluarga, sendiri di sebuah kota yang tidak ada orang lain selain kawan tetangga kamar kosan. Kosanku dua lantai, lantai satu terdapat 6 kamar yang diisi 10 orang dengan satu mushola dan tiga kamar mandi, sedangkan lantai dua, terdapat 5 kamar yang dihuni 9 orang. Rata-rata tiap kamar punya roommate kecuali aku di lantai atas dan dua orang kamar dibawah... baru tiga bulan ngekos penyakitpun datang. Lumayan. Infeksi usus dan ada gangguan dengan syaraf mata (yang membuat berkacamata sampai sekarang..^^). Nah di saat seperti itulah, kawan kosan yang rata-rata adalah kakak tingkat (biar kata Cuma setahuan di atas) namun semangat sebagai seorang abang sangat luar biasa. Ada yang bernama Hanif (anak IAIN) dan Hakim (anak MIPA UB) yang seolah menjadi abang sesungguhnya. Mulai dari nganter ke dokter, beliin makanan sampe menjaga kalau-kalau tengah malam bangun (karena sering muntah efek dari infeksi ususnya). Luar biasanya, dua abangku itu yang pada tahun berikutnya pindah kosan dan hampir tidak pernah ada kabarnya sampai sekarang. Semoga sehat selalu kalian sahabat, terima kasihku waktu itu kawatir tak bisa kuganti dengan apa yang aku mampu.
Kosan kedua, lumayan bagusan dengan harga yang dua kali lipat dari kosan yang pertama. Menghuni kosan kedua akibat dari adanya terror hantu pocong di kosan pertama yang sudah kutempati selama dua tahun dengan kenyamanan keluarga yang tiada bandingnya. Kosan baru ini juga dua lantai, tapi efektif yang difungsikan sebagai kosan hanya lantai dua yang hanya terdapat 6 kamar dengan 9 orang di dalamnya. Kalau yang ini mayoritas seumuran, sehingga abang-abangan tidak terasa, bahkan cenderung indivualis. Terkotak dalam kamar-kamar walaupun disediakan ruang bersama yang terdapat sebuah televise dan dispenser air minum gratis. Tahun kedua baru muncul rasa kekeluargaan yang dipicu oleh hobi yang sama, yaitu main game multiplayer, yang membuat kantong kami bolong ga karuan. Bagaimana gak bolong, tiap hari nongkrong di multiplayer game mulai dari jam 8 malam sampai jam 5 pagi. Selain itu, di kosan ini ada cerita tentang kawan kosan yang terobsesi pada satu wanita dengan melakukan hal-hal yang aneh. Menghafal jadwal harian si cewek pujaan tanpa bertegur sapa sedikitpun. Salamku sahabat, semoga sekarang kau ada kemajuan dengan cewek pujaanmu itu..^^ dua tahun juga aku di kosan kedua ini.
Kosan ketiga, terpaksa pindah ketempat ini karena dikosan kedua tidak bisa bulanan bayarannya. Harus pertahun, sedangkan aku sudah lulus dan sedang mencari penghidupan sementara di kota Malang ini. Luar biasanya kosan ini adalah terdiri dari kamar yang sampai saat ini tidak kuketahui pasti jumlahnya (saking banyaknya). Kawan-kawan menyebut kosan kami dengan sebutan “Hotel” karena begitu liarnya kosan kami ini. Kosan ketiga ini terdiri dari blok-blok, mulai dari blok A sampai blok H (kalau tidak salah), udah mirip perumahan aja pokokna mah. Aku sendiri tinggal di blok H, yang konon terkenal dengan urusan wanitanya..(ouw…^^) kenapa begitu, karena di blok ini, seringnya cewek2 kawan kos kami menginap disitu, dan bisa dipastikan aku yang dituakan disitu, karena pertama, aku udah lulus (dan hanya aku yang udah lulus..^^), kedua mereka rata-rata duduk di semester III, V, bahkan I. peta kawasan kosan ini adalah sebagai berikut. Blok A konon juga dikenal dengan blok wanita sama dengan blok C, tapi kebenarannya hanya kutau dari kawan-kawan yang ada di blok A. blok B adalah blok borjuis, kamar-kamar mewah yang perabotannya lengkap, bahkan dengan AC dan segala macamnya perlengkapan macam TV, Playstation II, PC dan segala kemewahan lainnya, yang ketika tahun 2004 pertengahan masih menjadi barang yang luar biasa. Blok D konon markasnya pembalap liar yang kerjaan tiap harinya ngulik motornya di parkiran kosan (ntah kapan kuliahnya, dan tidak satupun yang kukenal dari blok ini). Blok E, F, G dan H konon adalah blok mabok dan kawan2nya, karena botol miras banyak berserak disekitar blok ini. Cerita dari kosan ini adalah seorang kawan semester I (waktu itu) yang kamarnya tepat di depan kamarku. Laurensius namanya, anak Singkawang, Kalimantan Barat. Berangkat kuliah dengan menyandang gelar juara olimpiade Kimia nasional, namun udiknya luar biasa…^^ sangat kagum dengan pulau Jawa dan segala isinya, dan masih merasa seperti mimpi kuliah di pulau Jawa. Sahabat satu ini lebih kuanggap macam ade (sok jadi abang kali ini…^^), sering dianya minta saran soal kuliahnya, dan seringpula aku kasi masukan terkait bagaimana-bagaimananya. Dari tahun 2004 dia kontak lagi samaku pertengahan 2010 kemaren, dan bercerita, dia gagal di kuliahnya yang pertama dan sekarang pindah ke kampus lain. Semoga sukses selalu sahabat, kemampuanmu dan keluguanmu waktu itu sangat memukauku. Jika ada yang baik dari pesanku waktu itu, anggap sebagai cerita seorang abang dengan adenya, namun jika ada yang kurang baik, sempurnakanlah sebagai seorang sahabat yang saling melengkapi.
Kosan keempat, setelah aku hijrah ke pulau Madura. Kosan ketiga kutempati selama setengah tahun lalu aku pindah ke kosan keempat. Kosan keempat ini tidak banyak kesan karena hanya 3 bulan ditempat itu. Ditempat ini aku ketemu dengan keluarga baru di tempat yang baru yang juga merupakan rekan kerja dan akan selalu bertemu sampai pensiun nanti jika sampai usia kami. Kosan keempat sangat luas, dengan puluhan kamar di dalamnya. Beberapa kawan dari kosan keempat turut hijrah bersamaku di kosan kelima.
Kosan kelima, adalah sebuah rumah yang kami sebut ksatrian…^^. Bukan kosan tapi kontrakan tapi apalah bedanya antara kosan dan kontrakan, sama saja esensinya. Jadi kuhitung sebagai kosan kelima. Ksatrian ini terdiri dari 6 kamar. Kami menempati ksatrian ini selama 3 tahun, dan mengalamai beberapa pergantian personil. Personil pertama adalah Mamiek, Aku, Sofyan, Arief, Dj, Pak Pri dan Hafi. Belum genap satu tahun, sahabat kami, Sofyan menikah sehingga harus bersama dengan istrinya, sehingga Sofyan digantikan dengan sahabat kami yang lain, Pak Geng. Berikutnya Pak Pri yang menikah dan digantikan dengan sahabat kami yang lain Cak Sul dan masuknya sahabat kami yang lain, Cak Fu. Karena kami satu rumah, dan satu kantor, jadilah kami keluarga yang benar-benar keluarga. Namun, rasa keluarganya lebih kena seperti yang aku ceritakan di kosan pertama. Mungkin karena first is always better. Ksatrian ini bubar ketika setelah tiga tahun banyak diantara kami yang menikah dan beli rumah sendiri. Saat ini ada yang sudah memiliki tiga anak, dua anak, bahkan dua istri…^^
Biarpun berpisah, namun kami tetap bertemu. Dan seringnya terlontar dari masing-masing kami, ayo kapan para ksatria berkumpul kembali seperti dulu kala..membicarakan hal-hal yang sama seperti pada satu ketika ^^
Di sela-sela kosan kelima, muncul kosan keenam. Waktu itu aku ada tugas di Bandung selama 6 bulan. Mau tidak mau aku mencari tempat untuk berlindung dari panas dan hujan untuk selama waktu 6 bulan. Di situ berbentuk satu rumah yang kami huni bertiga, dengan dua kawan dari Banten. Bertemu lagi dengan dua keluarga baru di tempat yang sekali lagi baru, Bandung. Banyak hal yang kusuka dari Bandung, tapi banyak hal yang tidak terlalu kusuka dikosan ini. Intinya, aku kurang cocok dengan dua kawan ini, justru aku cocoknya dengan si babe, pemilik kosan. Babe (baca: babe, bukan beb..:p), demikian aku memanggilnya, cukup deket samaku, yang ternyata alasannya adalah karena mukaku yang mirip dengan muka anak pertamanya yang sedang kuliah di sekolah akuntansi Negara sana…hehehe. Banyak kesan tentang Bandungnya dibandingkan kesan tentang kosannya. Ini yang membuatku suka dengan kota ini, dan mengakibatkan aku kembali dua tahun berikutnya.
Kosan ketujuh, lokasinya di Surabaya. Akhirnya giliranku menikah, sehingga memperkuat alasan bubarnya ksatrian. Tapi, sebagai pegawai biasa, tak cukup uangku untuk membeli sebuah rumah, mampunya Cuma mengontrak saja untuk awalnya. Mengontrak sebuah rumah di kota buaya yang kutemani bersama teman hidupku, sampai saat ini. Kontrakan tanpa kecuali kuanggap juga sebagai kosan. Kosan ketujuh.
Di sela-sela kosan ketujuh, ada kosan kedelapan dan kesembilan. Keduanya berada di Bandung (lagi), ketika kembali aku ditugaskan ke Bandung, kali ini untuk jangka waktu yang lebih lama. Kosan kedelapan tidak asing bagiku, karena sewaktu aku di Bandung sebelumnya aku sering maen kesini, sehingga ketika aku ada di Bandung lagi kosan ini termasuk dalam radarku. Tentunya setelah kosanku yang dulu (keenam) tak dapat kumiliki lagi karena sudah ada yang punya…^^ Akhirnya aku sebagai penghuni kosan kedelapan. Kosan ini berbentuk persegi dengan pagar di depannya. Di dalam persegi tersebut berisi 8 kamar dan hanya terisi 4 kamar dengan 4 orang penghuni di dalamnya. Di tambah denganku, maka dari 8 kamar terisi 5 kamar dengan 5 orang penghuni di dalamnya. Sebulan setelah aku disitu, seorang yang disitu pindah dengan alasan si bapak kos rese’. Karena aku ga terlalu kenal dengan tu kawan, maka Cuma kuiyain aja, walau ga tau rese’nya kaya apa. Tidak lama berselang setelah tu kawan ciao, datang penghuni baru, Adul namanya, seorang kawan dari Garut yang kuliah di jurusan informatika. Jadi formasi kami tetap seperti semula, 5 kamar dengan 5 orang di dalamnya. Dari 4 penghuni tersebut, hanya Adul kawanku satu-satunya, yang sering kuajak ngobrol dan diajak ngobrol, yang lainnya pada Geje. Yang satu udah bapak-bapak banget, lebih tua dari sang penjaga kosan, dan jelas rese’nya. Yang kedua kawan sebelah kamar persis, adanya Cuma malam. Pulang, parker motor dan masuk kamar. Paginya keluar kamar, ambil motor lalu keluar, dan pulang malam lagi. Tetangga kamar yang dengan mudah kulupa namanya, yang jelas anak Tangerang. Sedangkan yang satunya lebih ajaib lagi. Dalam seminggu palingan ketemu satu kali. Paling banter dua kali, seorang kawan bernama Rony dari Cirebon. Maka wajarlah kiranya kalo Cuma Adul kawanku, selain tetangga kamar, dia juga satu-satunya yang stay di kamar sebanyak yang aku lakukan. Tak lama setelah Adul datang, datang kawan satu lagi, si Pandapotan kawan dari Bekasi keturunan Batak. Ini kawanku kedua setelah Adul yang bisa diajak ngobrol. Anaknya asik, tapi sayang Cuma dua bulan di situ. Lalu Lulus. Tak lama setelah Pandapotan, datang satu lagi kawan dari Palembang, lupa juga namanya. Ni bocah justru hampir tiap hari ada di kosan, jadi curiga kapan kuliahnya, karena konon dia satu kampus sama Adul, satu jurusan pula. Kata si Adul memang jarang kuliah tu bocah. Kerjanya ngegame sama ngumpulin kawan di kosan. Akibatnya jelas, terpental dari kosan hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan. Dari situ baru kerasa, betul juga bapa kos rese’ juga. Namanya kawan cowok, anak teknik, kumpul sama kawannya, mana bisa ga ribut? Akupun jadi korban beberapa kali kerese’annya yang membuatku terpental tahun berikutnya.
Tahun kedua di Bandung aku pindah kosan, ke kosan kesembilan. Alhamdulillahnya, aku kembali ke Babe. Walaupun tidak dalam kamar yang sama tapi dalam manajemen yang sama, kosan milik babe..hehehe. kosan si babe ini terdiri dari 4 kamar dan satu rumah yang kutempati dua tahun sebelumnya. dari empat kamar tersebut dua kosong, yang satu baru kosong setelah ditinggal kawanku serumah dari Banten dulu yang baru selesai melaksanakan tugasnya. Akhirnya kugantikan tempatnya. Namun setelah dipikir-pikir aku lebih memiliih kamar satunya. Dan pilihanku sangatlah tepat, kamar paling nyaman dari tujuh kosan sebelumnya. satu kosan tidak dihitung..:p kamar paling nyaman karena kamar ini satu-satunya kamar yang ada kamar mandi di dalamnya, hahahaha jadi kalo mau mandi, buang air, ga perlu jauh2 dan repot2 mesti keluar kamar. Selain itu, di kamar ini baru kurasakan, oooo kaya gini kamar yang penuh fasilitas macam kamar kawanku dikosan ketiga dulu di blok B…:p kamar yang nyaman ditambah dengan bapa kos si babe, sungguh perpaduan yang sempurna, sampai tak terasa tugasku selesai juga di Bandung ini dalam waktu yang sedikit lebih lama dibandingkan sebelumnya. molor setengah tahun…^^ tidak banyak yang kutahu tentang kawan kosan yang lain selain sebelah kamarku bernama Iwan, dan pindah beberapa bulan setelah aku disitu, pindah dan digantikan dengan kawan lain dari Pekanbaru yang sampai sekarang aku ga tau namanya. Kamar di ujung sana penghuninya tetap dari sebelum aku datang sampai aku tinggalkan. Dan tetap aku tidak tahu siapa namanya. Kamar yang depan, berganti-ganti penghuninya, dari seorang perempuan mahasiswa dokter gigi, sampai akhirnya diganti seorang laki-laki mahasiswa fakultas hukum. Tak tau juga siapa namanya. Akhirnya kosan kesembilan kutinggalkan dengan berbagai kenangan dan kembali ke kosan ketujuh. Di kosan kesembilan, sahabatku adalah kamar kosku sendiri. Kurindu samamu sahabat, semoga kau dimiliki oleh penggantiku yang lebih merawatmu…^^
Kosan ketujuh ini juga habis masa berlakunya beberapa bulan lagi. Apakah akan berlanjut ke kosan kesepuluh? Atau cukup sampai dikosan kesembilan dan punya kesempatan untuk beli rumah idaman?...biarlah waktu yang akan menjawabnya…^^
Dalam waktu sebelas tahun aku tinggal di empat tempat berbeda, berbeda dari budaya maupun bahasa. Beberapa tahun lagi apakah aku masih di tempat yang sama? Ataukah sudah mengembara di tempat yang berbeda lagi untuk kemudian menceritakan kosan kesekian?
Tulisan nglantur dari pagi, dilanjut malam hari.


Thursday, November 03, 2011

Terima Kasih, Hujan

Pagi ini kondisi badanku agak kurang sehat, jadi kulepas semua pekerjaan hari ini, aku ingin beristirahat. Dalam rangka istirahatku kuputar beberapa lagu beserta klipnya yang kebetulan kuunduh beberapa tahun yang lalu. Terlintas ingatan saat aku mengunduh lagu itu, namun yang lebih dalam, terlintas ingatan tentang saat-saat dimana aku mendengar pertama kali lagu itu, saat-saat dimana aku melihat pertama kali klip itu, dan akhirnya terlintas masa-masa itu. Berkali-kali terjadi, bahwa music memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membantuku memanggil kembali ingatan-ingatan yang terpendam sangat dalam, bertahun-tahun yang lalu.
Lagu yang kuputar itu adalah “Negeri di Awan”. Lagu yang hampir menjadi legenda karena tak lekang oleh waktu. Aku masih ingat betul lagu itu pertama kali kudengar medio tahun 1994, sekira 17 tahun yang lalu, di saat itu musim hujan, dan saat itu aku tinggal bersama simbah putri ku. Aku berusia 11 tahun waktu itu, namun lagu itu (walaupun aku tidak tahu persis maknanya) melekat dalam di pikiranku. Sungguh, sampai saat ini, ketika aku mendengar lagu itu, atau melihat klip itu, ada tiga hal yang kuingat selalu, pertama, betapa aku rindu dengan simbah putri ku, kedua, betapa ternyata aku sangat suka dengan musim penghujan, dan ketiga, betapa indah masa-masa itu.
Berulangkali kucoba mengobati rasa rinduku dengan simbah putriku, dirumah dimana aku dibesarkan. Antara rumah simbah putri dan simbah putri ternyata sudah bukan satu kesatuan. Simbah putriku dengan segala rasa kasih sayang nya yang takkan berganti, namun rumah itu sudah tidak memiliki jiwa lagi, dan aku tidak suka itu. Aku ingin mendapatkan rinduku kembali dengan simbah putri lengkap dengan suasana dalam rumahnya, namun semua tak sama. Rumah simbah putriku tidak memiliki jiwa belasan tahun yang lalu, karena rumah itu menjadi rumah yang baru, tidak tersisa sedikitpun kenangan kamar yang kutempati bertahun-tahun, tidak tersisa ruang dibelakang kursi tamu yang kupakai untuk bermain sendirian (selalu), tidak tersisa ruang tamu yang cukup lapang tempat dimana kugantungkan lingkaran besi tempat aku berlatih basket belasan tahun yang lalu, tidak tersisa halaman tanah dan pohon jambu tempat aku menunggu buka puasa tahun-tahun yang lalu. Rumah simbah putri ku sudah roboh dan diganti dengan rumah yang baru, dan tanpa jiwa kenanganku di situ. Betapa terkadang aku sangat sedih dengan yang namanya kenangan, hanya berkali-kali kuingat, namun tak bisa kembali dan kurasakan.
Saat ini sudah mulai memasuki musim hujan, dan yang kurasa, tak sesakral musim hujan yang kutemui belasan tahun yang lalu. Jadi, apa yang bisa kulakukan saat ini, disaat musim hujan mulai datang tanpa pesan. Aku jatuh cinta dengan musim hujan karena disaat itu adalah saat dimana semua orang tidak akan kemana-mana. Semua orang berada dalam rumah untuk saling bercerita satu dan yang lainnya. Semua orang menciptakan kehangatan cinta kasih keluarga dalam dinginnya musim. Hanya itu yang bisa kuingat tentang musim hujan. Aku sudah punya keluarga kecil saat ini. Lebih kecil dibandingkan ketika aku masih kecil dulu. Ingin kumulai dari sekarang indahnya musim hujan bersama keluarga, betapa hangatnya musim ini dan betapa aku tidak bisa berbohong, bahwa aku sangat gembira ketika musim hujan tiba.
Belasan tahun berlalu dari masa ketika pertama aku mendengar dan melihat “negeri di awan” itu. Semua berlalu dan semua tak sama, tak pernah sama. Indah memang masa-masa itu, dan takkan pernah terganti. Berkhayal adalah hal dimana kita bisa bebas mengembara kemana kita suka. Dan kalau berkhayal itu dapat diwujudkan. Aku ingin sekali saja, sungguh hanya sekali saja kembali ke masa itu untuk mengucapkan terima kasih kepada orang-orang di masa itu yang telah menciptakan kenangan yang indah sampai saat ini. Hanya itu. Setelah itu aku akan mencoba menciptakan kebahagian-kebahagiaan baru dan merekam kenangan-kenangan baru yang kusimpan diruangan yang lain dalam ingatanku.
Selamat datang hujan, sungguh aku sangat berterimakasih karena diijinkan sekali lagi bertemu denganmu.

Tuesday, August 16, 2011

Gaudeamus Igitur

Gaudeamus igitur, Iuvenes dum sumus.
Post iucundam iuventutem, Post molestam senectutem
Nos habebit humus, Nos habebit humus…
Selesai sudah rangkaian ujian skripsi Universitas Trunojoyo Madura periode Semester Genap 2010/ 2011. Selamat buat kawan-kawan sekalian atas keberhasilan menyelesaikan studi di Universitas Trunojoyo Madura. Jagalah dirimu, jagalah almamatermu, sukses selalu…

Gaudeamus igitur, Iuvenes dum sumus.
Post iucundam iuventutem, Post molestam senectutem
Nos habebit humus, Nos habebit humus…

Vivat academia!, Vivant professores!
Vivat membrum quodlibet, Vivant membra quaelibet;
Semper sint in flore, Semper sint in flore…


 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes